https://mchec.org/

China Tercatat Deflasi Menjelang Imlek

mchec.org – Indeks Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI) dan Indeks Harga Produsen (IHP) atau Producer Price Index (PPI) di China tercatat mengalami penurunan yang mengarah pada deflasi seiring mendekatnya perayaan Imlek. Kondisi ini membawa pengaruh buruk pada pasar di tengah prediksi melambatnya perekonomian global.

Menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional China, IHK China mengalami penurunan tahunan sebesar 0,8% pada bulan Januari 2024. Angka ini merupakan penurunan terbesar dalam periode lebih dari satu dekade terakhir, sejak 14 tahun yang lalu, dan lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memproyeksikan penurunan sebesar 0,5%.

Penurunan ini menandai bulan keempat berturut-turut IHK berkurang, dengan deret penurunan terpanjang yang terjadi sejak Oktober 2009.

Di sisi lain, IHP China mengalami penurunan sebesar 2,5% pada tahunan di bulan yang sama, yang mana berarti penurunan lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat 2,7%, dan juga lebih rendah dari proyeksi pasar yang memperkirakan penurunan sebesar 2,6%.

Walaupun penurunan IHP terbaru ini menunjukkan yang terlemah dalam empat bulan terakhir, ini juga mencerminkan kontraksi harga produsen selama 16 bulan berturut-turut, mengindikasikan adanya tekanan deflasi yang berkelanjutan di ekonomi China.

Penurunan IHK dan IHP di China terjadi di tengah upaya negara tersebut dalam mengatasi penurunan harga yang telah dimulai sejak awal tahun sebelumnya, mendorong para pembuat kebijakan untuk menurunkan suku bunga guna mendorong pertumbuhan. Hal ini terjadi sementara negara-negara maju lainnya justru fokus pada pengendalian inflasi yang tinggi.

Di tengah semua ini, permintaan global yang masih terbatas menambah tekanan, dengan survei yang dilakukan oleh otoritas resmi menunjukkan adanya penurunan aktivitas di sektor manufaktur China pada bulan Januari.

Pasar saham China sempat terpukul oleh pengumuman data IHK yang mengecewakan sebelum akhirnya pulih, didukung oleh serangkaian kebijakan stimulus yang diperkenalkan baru-baru ini.

Mirisnya Konsumsi di Tahun Baru Imlek

Dari sumber Reuters, di salah satu pasar grosir makanan paling ramai di Beijing, suasana yang biasanya ramai menjelang Tahun Baru Imlek tidak terasa sama tahun ini. Sudut-sudut yang biasanya dipenuhi dengan daging kini terlihat lebih sepi, dan pembeli tampak lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Pedagang daging di ibu kota tersebut menghadapi masa sulit, dengan konsumen yang tampaknya membatasi pengeluaran mereka, termasuk untuk daging babi yang selama ini merupakan makanan pokok dalam perayaan. Jika konsumen sudah mulai mengurangi pembelian daging babi, yang merupakan tradisi dalam perayaan Imlek, maka para pedagang ini berada dalam posisi yang menantang untuk menemukan alternatif yang dapat mereka tawarkan.

Selain daging babi, konsumen mungkin juga mengurangi pengeluaran mereka untuk item makanan lain yang dianggap mewah atau tidak esensial. Ini bisa mencakup berbagai jenis daging lain, seafood, makanan penutup tradisional, dan makanan ringan khusus yang sering dikonsumsi selama periode perayaan. Sikap hemat ini mencerminkan kehati-hatian dalam pengeluaran di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti dan mungkin juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti kesehatan dan keberlanjutan.

CPI China Sebulan Sebelum Imlek % yoy

Secara historis, Indeks Harga Konsumen (CPI) di China cenderung fluktuatif menjelang perayaan Imlek, namun tercatat bahwa angka tersebut mencapai puncaknya pada Januari 2020 dengan lonjakan hingga 5,4% pada basis year-on-year (yoy), tepat sebelum pandemi Covid-19 mempengaruhi skala global.

Setelah pandemi mulai mempengaruhi China, CPI di negara tersebut terlihat stabil pada level yang lebih rendah, khususnya di tengah kondisi ekonomi global yang melambat dan berbagai tantangan domestik yang dihadapi China, termasuk krisis di sektor properti.

Krisis properti di China telah memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi, mengingat sektor ini merupakan salah satu pilar utama perekonomian negara tersebut. Dengan adanya penurunan aktivitas di sektor properti, konsumsi dalam negeri pun terpengaruh, yang mana dapat mempengaruhi CPI karena berkurangnya permintaan terhadap barang dan jasa tertentu.

Kombinasi dari faktor-faktor ini—dampak pandemi, perlambatan ekonomi global, dan krisis di sektor properti—semuanya berkontribusi terhadap penurunan tekanan harga di China, yang tercermin dalam angka CPI yang lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya.