https://mchec.org/

ODGJ Perempun Dibakar Hidup-Hidup Oleh Massa di Papua Karena Dituduh Penculik Anak, Sangat Kejam

mchec.org – Peristiwa tragis di Sorong, Papua Barat Daya, di mana seorang wanita dengan kondisi kesehatan mental terganggu dibakar hidup-hidup oleh sekelompok orang karena tuduhan sebagai penculik anak, mencerminkan adanya stigma negatif yang mendalam serta respons yang kurang tepat dari pihak kepolisian terhadap kekerasan yang menimpa Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Kelompok advokasi kesehatan mental, Perhimpunan Jiwa Sehat, menyuarakan bahwa baik masyarakat maupun aparat penegak hukum sering kali tidak mengakui bahwa ODGJ juga merasakan sakit, malu, dan hina, yang mengakibatkan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap mereka.

Kepala Kepolisian Kota Sorong, Happy Yudianto, menyatakan bahwa pihaknya telah menahan seorang individu yang diduga terlibat dalam perbuatan tersebut, yakni yang bertanggung jawab atas penumpahan bensin dan pembakaran terhadap korban.

Dua saksi mata, Absalom Bodory dan Hamzah Bodory, menggambarkan bahwa tindakan kekerasan tersebut berawal dari rasa curiga beberapa warga terhadap gerak-gerik korban bernama Wagesuti yang tampaknya bingung, di tengah-tengah kabar tentang penculikan anak yang beredar luas di media sosial.

Wagesuti kemudian didesak oleh warga untuk memberikan penjelasan, namun responsnya, menurut kedua saksi, tampak tidak memuaskan dan menimbulkan kemarahan di kalangan warga, yang semakin terprovokasi karena ia dianggap memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan pelaku penculikan anak seperti yang diisukan di media sosial.

Pada sekitar pukul 07.00 WIT, Idris Ugaje, seorang tokoh masyarakat setempat, memberitahukan kepada petugas Bhabinkamtibnas bahwa warga telah menahan seorang individu. Namun, situasi cepat memburuk dan warga mulai menyerang korban dengan kekerasan fisik.

Seorang polisi dari Polsek Sorong Timur berusaha menyelamatkan korban dari serangan warga, namun sekelompok orang terus mengejarnya dengan niat untuk melakukan penganiayaan lebih lanjut.

Situasi memuncak ketika beberapa individu dari kelompok penyerang menyiram korban dengan bensin, yang juga menyebabkan petugas Bhabinkamtibnas, Fahri Husein, terkena siraman. Saksi Absalom dan Hamzah, yang juga terkena bensin, berusaha mencegah tindakan lebih lanjut namun gagal, karena seorang dari kerumunan menyalakan api dan membakar korban.

Korban yang terbakar hidup-hidup kemudian diberi pertolongan oleh polisi dan warga yang berusaha memadamkan api. Korban segera dilarikan ke RS Sele Be Solu untuk mendapatkan perawatan medis, bersama dengan kedua saksi yang juga mengalami luka bakar.

Sayangnya, Wagesuti menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit karena luka bakarnya yang sangat parah mencapai 90%, sekitar satu jam setengah setelah serangan itu terjadi.

Wagesuti, korban yang mengalami gangguan jiwa, menjadi sasaran kebrutalan massa di Sorong, Papua Barat Daya, karena dia dianggap mencurigakan oleh warga setempat. Menurut kesaksian dua saksi di tempat kejadian, Absalom Bodory dan Hamzah Bodory, insiden kekerasan ini dipicu oleh perilaku korban yang tampak bingung, yang muncul di tengah penyebaran rumor tentang penculik anak di media sosial.

Tanggapan Wagesuti atas pertanyaan warga, yang dianggap tidak jelas dan membingungkan, menambah rasa curiga dan akhirnya memicu kemarahan mereka. Kondisi ini diperparah dengan adanya kepercayaan bahwa ia memiliki kemiripan dengan gambaran penculik yang dijelaskan dalam pesan yang beredar di media sosial.

Pada waktu kejadian sekitar jam 07.00 WIT, Idris Ugaje, pemimpin komunitas lokal, telah berkomunikasi dengan petugas Bhabinkamtibnas mengenai penahanan individu yang dicurigai oleh warga. Namun, sebelum petugas keamanan dapat mengintervensi, situasi sudah memburuk, dengan warga yang telah melepas pakaian korban dan melakukan pengeroyokan.

Petugas kepolisian dari Polsek Sorong Timur yang tiba di lokasi segera mencoba untuk melindungi korban dari serangan lebih lanjut, tetapi dihadang oleh massa yang bertekad untuk melanjutkan tindakan kekerasan.

Di tengah kekacauan yang terjadi di sebuah jalan di komplek perumahan, insiden yang mengerikan terjadi ketika beberapa individu dari komunitas Kokoda memercikkan bensin ke arah Wagesuti dan secara tidak sengaja menyiramkan bensin ke petugas Bhabinkamtibnas, Fahri Husein.

Saksi mata, Absalom dan Hamzah, berupaya untuk menenangkan massa dan melindungi korban dari kekerasan lebih lanjut.

Namun, keadaan berubah menjadi tragis ketika seseorang dari kerumunan menyalakan api, yang menyebabkan Wagesuti terbakar. Kedua saksi, yang juga terkena bensin, terluka akibat api yang menyala.

Anggota kepolisian dari Polsek Sorong Timur dan penduduk setempat yang menyaksikan kejadian itu bergegas untuk memadamkan api yang membakar Wagesuti menggunakan air dan peralatan yang ada di sekitar mereka.

Setelah berhasil memadamkan api, korban dan saksi yang terluka dilarikan ke RS Sele Be Solu dengan kendaraan milik salah seorang warga.

Di rumah sakit, korban mendapatkan perawatan medis segera, begitu pula dengan Absalom dan Hamzah yang mengalami luka bakar yang cukup serius.

Tragisnya, meskipun telah mendapatkan perawatan medis, Wagesuti tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia karena luasnya luka bakar yang dialaminya.

Kepolisian Resor Kota Sorong telah menangkap seorang individu dengan inisial IZ, yang diidentifikasi sebagai pelaku kunci dalam kasus pembakaran terhadap Wagesuti. IZ diduga secara langsung terlibat dalam tindakan mengguyur bensin dan menyetrum nyala api yang mengakibatkan korban terbakar.

“Kami telah mengamankan satu orang tersangka, pelaku utama dalam insiden ini, yang bertanggung jawab atas penumpahan bensin dan pembakaran korban,” ungkap Kapolresta Sorong, Happy Perdana Yudianto.

Menurut pernyataan Kapolresta, ada beberapa orang lain yang saat ini menjadi subjek pencarian polisi karena dugaan mereka terlibat sebagai provokator dalam kejadian tersebut dan untuk orang yang membeli bensin yang digunakan dalam tindakan pembakaran tersebut.

Kapolresta Sorong, Happy Perdana, juga mengkonfirmasi bahwa korban, Wagesuti, merupakan individu dengan gangguan jiwa. Hal ini didasarkan pada interaksi sebelumnya pada tanggal 21 Januari, dimana korban mengalami kekerasan serupa di Pasar Ikan Jembatan Puri dan terbukti tidak mampu memberikan keterangan yang koheren.

Lebih lanjut, terkait isu penculikan yang ramai di media sosial, Kapolresta menegaskan bahwa belum ada laporan resmi yang masuk mengenai kasus penculikan anak di wilayah tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Kota Sorong, Happy Perdana, telah menyatakan bahwa Wagesuti, yang menjadi korban pembakaran, mengalami gangguan mental.

Hal ini didasarkan pada kejadian sebelumnya yang terjadi pada tanggal 21 Januari, saat Wagesuti mengalami insiden kekerasan di Pasar Ikan Jembatan Puri. Pada waktu itu, dia tidak mampu memberikan respons yang jelas ketika diinterogasi, sebuah indikasi dari kondisi kesehatan mentalnya.

Adapun rumor tentang penculikan anak yang tersebar luas di media sosial, Kapolresta Sorong menegaskan bahwa sampai saat ini, belum terdapat laporan resmi yang masuk mengenai adanya kasus penculikan anak di wilayah tersebut.