https://mchec.org/

Kota Ini Dikecam Sebab Promosi Tempat Wisata Pakai Boneka Seks

mchec.org – Prefektur Tokushima di Jepang mendapat kritikan tajam dari pengawas keuangan negara akibat sebuah langkah promosi yang dianggap tidak sesuai. Menurut laporan yang diambil dari Business Insider pada tanggal 1 Februari, pemerintah lokal Prefektur Tokushima awalnya menyelenggarakan sebuah pameran pariwisata di Bandara Tokushima Awaodori pada bulan Juni 2017. Pameran ini bertujuan untuk mempromosikan seni tradisional pewarnaan kimono yang khas dari wilayah tersebut. Untuk keperluan pameran, manekin berharga USD 180 atau sekitar Rp 12 juta digunakan sebagai model.

Namun, pada bulan Juli 2017, seorang pejabat pria yang namanya tidak diungkapkan mengganti manekin tersebut dengan boneka seks yang harganya mencapai 424.440 Yen atau sekitar Rp 45 juta. Pejabat tersebut berpendapat bahwa boneka seks tersebut akan lebih menarik perhatian publik, menurut laporan dari audit. Namun, auditor menyatakan tidak setuju dengan argumen tersebut.

Auditor tersebut menyatakan, “Boneka tersebut sangat mahal dan tidak pantas menurut norma sosial yang berlaku,” mengkritik penggunaan tersebut.

Pejabat yang bertanggung jawab telah diperintahkan untuk memberikan ganti rugi terkait insiden tersebut sebelum tanggal 19 Juni. Gubernur Prefektur Tokushima yang baru menjabat, Masazumi Gotoda, mendapati dirinya terlibat tanggung jawab dalam kasus yang terjadi sebelum masa jabatannya.

“Meskipun kejadian ini terjadi sebelum saya menjabat sebagai gubernur, saya mengambil tanggung jawab pengawasan dan akan mengambil tindakan serius terhadap hasil audit ini,” ujar Gotoda ketika mengomentari situasi tersebut.

Tidak asing dengan kontroversi, pejabat pemerintah Jepang sekali lagi menjadi sorotan karena pembelian yang tidak biasa dengan dana publik. Contoh lain terjadi di bulan Mei 2021, ketika otoritas kota pesisir Noto menghadapi kritikan publik setelah menggunakan hampir USD 170.000 untuk memperoleh sebuah patung cumi-cumi yang berukuran sangat besar.

Proyek ini difinansir dengan bagian dari dana bantuan Covid-19 yang totalnya USD 5,4 juta.

Seorang pejabat kota saat itu menjelaskan, “Pemerintah pusat mengizinkan dana tersebut untuk digunakan dalam upaya peningkatan pariwisata, sehingga kami memutuskan untuk membuat sesuatu yang bisa memberikan dampak signifikan. Kami berharap ini akan menarik perhatian dan menggerakkan ekonomi lokal kami, yang telah terpukul oleh penurunan drastis dalam jumlah kunjungan wisatawan.”